Testindo – Kejadian longsor dan banjir besar di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat ternyata merupakan dampak dari siklon tropis. Bencana ini menelan sebanyak 1000 lebih korban jiwa dan menghancurkan rumah warga dan infrastruktur publik.
Siklon tropis merupakan badai dengan skala cukup besar yang terbentuk di atas laut hangat dan ditandai oleh sistem tekanan rendah serta angin berkecepatan tinggi. Fenomena ini mampu memicu hujan ekstrem, angin kencang, dan gelombang tinggi dalam radius ratusan kilometer. Keberadaan siklon tropis sering sangat mempengaruhi kondisi cuaca regional serta meningkatkan risiko terjadinya banjir dan longsor.
Apa Itu Siklon Tropis
Secara umum, siklon tropis dapat dipahami sebagai badai besar yang terbentuk di atas lautan hangat dengan suhu di atas 26,5 derajat celcius dan memiliki pusat tekanan udara rendah. Siklon ini terbentuk pada wilayah awan konvektif yang berkembang secara intens dan disertai angin kencang dengan kecepatan 34 knot yang berputar mengelilingi pusat badai.
Dalam konteks meteorologi, siklon tropis diklasifikasikan sebagai sistem tekanan rendah non-frontal berskala besar yang bertahan dalam kurun waktu tertentu. Artinya, badai ini bukan fenomena sesaat, melainkan sistem yang dapat berkembang, bergerak, dan melemah secara bertahap.
Dalam pembentukan siklon ini dibutuhkan kondisi atmosfer yang mendukung, seperti ketidakstabilan udara dan gangguan awal berupa sistem tekanan rendah. Ketika udara hangat dan lembap dari permukaan laut naik ke atmosfer, terbentuklah awan konvektif yang semakin lama semakin intens. Proses ini memicu perputaran angin akibat pengaruh rotasi bumi, yang kemudian membentuk struktur khas siklon tropis.
Fenomena Badai Siklon Tropis di Indonesia
Siklon tropis adalah salah satu fenomena cuaca paling kuat di wilayah tropis dan subtropis. Tapi sebenarnya, siklon tropis ini sangat jarang melewati garis khatulistiwa karena memiliki Gaya Coriolis yang sangat lemah di ekuator (nol), sehingga badai tidak bisa terbentuk atau melemah.
Meski secara umum jarang dilalui siklon tropis, kondisi cuaca di wilayah Indonesia ternyata juga dipengaruhi oleh keadaan siklon tropis, yang jika terus mendekat akan memberikan dampak tidak langsung berupa cuaca buruk, antara lain hujan ekstrem, peningkatan kecepatan angin pemrukaan, dan gelombang tinggi.
Hal ini dikarenakan siklon tropis memicu faktor skala sinoptik di wilayah sekitarnya yang dapat membentuk daerah konvergen maupun mendorong peningkatan kecepatan angin di darat maupun di laut.

Dilansir dari CNN Indonesia, menurut Direktur Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani juga mengungkap bahwa saat ini Indonesia tak benar-benar aman dari bahaya siklon tropis.
“Dengan seiring terus menghangatnya perairan Indonesia yang tadi menyuburkan tekanan rendah yang menjadi pemicu adanya bibit siklon, maupun siklon, maupun pola tekanan rendah, ini tentunya kita harus waspada bahwa tidak bisa lagi, artinya memandang bahwa Indonesia akan aman dari lintasan siklon,” ujar Andri.
Jika melihat bencana yang terjadi di Aceh dan Sumatera, maka artinya ada anomali cuaca yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Tidak heran jika kondisi cuaca sekarang ini sulit diprediksi, bahkan berpotensi menimbulkan ancaman bencana di wilayah lainnya jika tidak dilakukan pemantauan atau analisa yang lebih mendalam terkait kondisi atomsfer di Indonesia.
Sebenarnya pemerintah Indonesia memang telah memasang automatic weather station (stasiun cuaca otomatis) pada titik-titik tertentu di setiap kota, yang tujuannya untuk memantau setiap parameter cuaca seperti kecepatan angin, suhu, kelembaban, arah angin, curah hujan dan lainnya.
Namun selain pemantauan, diperlukan kajian yang lebih mendalam terkait perubahan cuaca di Indonesia belakangan ini.
Menurut ahli iklim dan cuaca dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Erma Yulihastin, selain faktor suhu laut, ternyata kondisi daratan yang mengalami pemanasan pada permukaan akibat kurangnya tutupan hutan juga berperan besar dalam terbentuknya siklon tropis ini.
Berdasarkan riset yang telah dilakukan di kawasan Teluk Meksiko dalam satu hingga dua tahun terakhir mengungkapkan salah satu penyebabnya adalah deforestasi. Pada saat riset menggunakan skenario kedua, dilakukan pengurangan tutupan hutan akibatnya terjadilah pemanasan di darat sehingga pergerakan badai mengalami pergeseran ke arah darat.
Perubahan iklim dengan penggundulan hutan menjadi kombinasi utama yang menyebabkan terjadinya banjir bandang di Aceh dan Sumatera yang membawa banyak sekali gelondongan batang pohon di sejumlah titik yang terdampak banjir.
Dikutip dari Mongabay, Provinsi Sumatera Barat telah kehilangan sekitar 1.153.993 hektar hutan sepanjang periode 1980–2024. Hilangnya tutupan hutan tersebut dipicu oleh alih fungsi wilayah resapan air menjadi konsesi perkebunan dan pertambangan, yang semakin memperparah kondisi lingkungan di wilayah itu.
Supaya kejadian banjir bandang dan longsor tidak terulang kembali, perlu peran dari masyarakat dan pemerintah untuk menjaga hutan dari kerusakan dan penebangan liar. Jangan tunggu sampai bencana besar terjadi lagi.
