mendeteksi korosi bangunan di pinggir pantai

Testindo Korosi pada struktur beton di lingkungan pantai sering terjadi tanpa disadari akibat paparan garam dan kelembapan tinggi, sehingga tidak bisa dideteksi hanya dengan inspeksi visual. Metode Non-Destructive Testing (NDT) seperti Half-Cell Potential, GPR, dan termografi inframerah digunakan untuk mengidentifikasi korosi sejak dini tanpa merusak struktur. Kombinasi pengujian elektrokimia, gelombang, dan kimia memberikan hasil yang lebih akurat untuk mencegah kegagalan struktural.

Bagian struktur bangunan yang ada di pinggir pantai seperti dermaga, jembatan, atau gedung dekat laut potensi terjadinya korosi cukup tinggi. Kandungan garam (klorida) yang tinggi dan kelembapan udara yang ekstrem membuat proses korosi berjalan jauh lebih cepat dibandingkan area daratan biasa. Masalahnya, korosi ini sering berkembang tanpa tanda visual di awal. Artinya, kalau Anda hanya mengandalkan inspeksi secara visual, risiko terlewatnya kerusakan cukup besar dan ini bisa berujung pada kegagalan struktur yang serius.

Pengujian untuk Mendeteksi Korosi pada Struktur Bangunan

Perlu dilakukan tindakan audit dan assessment dengan metode Non-Destructive Testing (NDT) atau pengujian tanpa merusak. Melaui pengujian ini, bisa dianalisa kondisi tulangan di dalam beton tanpa harus membongkar struktur. Apa saja jenis pengujiannya ?

1. Uji Elektrokimia

Karena korosi pada dasarnya adalah reaksi elektrokimia, pendekatan ini menjadi salah satu yang paling akurat untuk mengetahui apakah proses korosi sudah mulai terjadi.

Half-Cell Potential (HCP)

Metode ini bekerja dengan mengukur perbedaan potensial listrik antara tulangan baja di dalam beton dan elektroda referensi di permukaan. Hasilnya biasanya berupa peta kontur yang menunjukkan distribusi nilai potensial di area struktur.

Yang menarik, Anda bisa mengetahui tingkat risiko korosi dari nilai tersebut. Jika hasil pengukuran menunjukkan nilai yang sangat negatif, itu berarti kemungkinan besar korosi aktif sedang terjadi, meskipun secara visual beton masih tampak normal.

Concrete Resistivity

Metode ini mengukur kemampuan beton dalam menghantarkan arus listrik. Di lingkungan pantai, beton cenderung lebih lembap dan mengandung garam, sehingga nilai resistivitasnya rendah.

Kenapa ini penting? Karena semakin rendah resistivitas, semakin mudah arus korosi mengalir. Dengan kata lain, kondisi ini mempercepat kerusakan tulangan di dalam beton.

2. Metode Elektromagnetik & Gelombang: “Mengintip” Isi Beton

Kalau Anda ingin melihat kondisi fisik di dalam beton tanpa membongkar, metode berbasis gelombang bisa jadi pilihan terbaik.

Ground Penetrating Radar (GPR)

GPR menggunakan gelombang elektromagnetik frekuensi tinggi yang dipancarkan ke dalam beton. Gelombang ini akan memantul kembali saat menemui perbedaan material, seperti tulangan baja atau rongga udara.

Korosi biasanya menyebabkan perubahan sifat material di sekitar baja dan menghasilkan pelemahan sinyal pantulan. Jadi, jika hasil scan menunjukkan area yang tampak “redup” atau tidak konsisten, itu bisa menjadi indikasi adanya korosi atau bahkan delaminasi.

Ultrasonic Pulse Velocity (UPV)

Metode ini memanfaatkan gelombang ultrasonik yang dikirimkan melalui beton. Kecepatan rambat gelombang ini sangat dipengaruhi oleh kepadatan material.

Jika di dalam beton terdapat retakan mikro atau rongga akibat pembengkakan besi yang berkarat, gelombang akan melambat atau terdistorsi. Dari sini, Anda bisa mengidentifikasi area yang berpotensi mengalami kerusakan internal.

3. Termografi Inframerah: Cepat untuk Area Luas

Untuk inspeksi area yang besar seperti dinding dermaga atau tiang jembatan, metode ini sangat efisien.

Dengan menggunakan kamera termal, Anda bisa mendeteksi perbedaan suhu di permukaan beton. Sekilas terdengar sederhana, tapi sebenarnya cukup powerful.

Korosi pada tulangan bisa menyebabkan terbentuknya celah kecil (delaminasi) di bawah permukaan. Celah ini memiliki karakteristik termal yang berbeda dibanding beton padat. Akibatnya, saat terkena panas matahari, area yang mengalami kerusakan akan menunjukkan pola suhu yang berbeda, bisa lebih panas atau lebih dingin.

Ini memungkinkan Anda memetakan area bermasalah dengan cepat tanpa harus melakukan kontak langsung.

4. Pengujian Kimia: Menelusuri Akar Masalah

Selain mendeteksi gejala, penting juga untuk memahami penyebabnya. Di lingkungan pantai, dua faktor utama yang sering memicu korosi adalah penetrasi klorida dan karbonasi beton.

Uji Penetrasi Klorida

Metode ini dilakukan dengan mengambil sampel beton dari berbagai kedalaman, lalu dianalisis di laboratorium. Tujuannya untuk mengetahui seberapa jauh ion klorida telah masuk ke dalam beton.

Jika kadar klorida di area tulangan sudah melewati batas tertentu, maka risiko korosi meningkat drastis, bahkan bisa dipastikan sudah mulai terjadi.

Uji Karbonasi

Pengujian ini menggunakan larutan indikator (phenolphthalein) untuk melihat apakah beton masih memiliki sifat basa.

Beton yang sehat akan berubah warna saat diuji, menandakan kondisi masih aman. Sebaliknya, jika tidak ada perubahan warna, itu berarti beton sudah mengalami karbonasi dan kehilangan perlindungan alami terhadap korosi.

Bagi Anda pengelola atau pemilik bangunan seperti jetty, dermaga, bahkan hotel dan villa yang ada di pinggir pantai, bisa melakukan semua jenis metode pengujian ini dengan menggunakan layanan atau jasa Assessment dan Audit Struktur Bangunan.

Layanan Audit dan Assessment Bangunan oleh Testindo

Hardness test
Uji kekerasan pada struktur pelabuhan (Doc: Testindo)

Testindo sebagai perusahaan engineering services & monitoring solution menyediakan Jasa Audit Struktur Bangunan di pinggir atau sekitar pantai seperti dermaga, pelabuhan, villa, hotel dan lainnya. Hubungi tim kami untuk konsultasi dan pemesanan :

Chat dengan tim kami melalui fitur live chat di pojok kanan bawah website ini