Testindo – Buruknya kualitas udara di berbagai kota besar bukanlah suatu hal yang mengejutkan. Tidak sedikit kasus ISPA (Infreksi Saluran Pernapasan Akut) yang terjadi akibat polusi udara yang sudah semakin parah. Debu, asap kendaraan, polusi industri, bahkan pembakaran sampah, semua menjadi sumber pencemar udara.
Ada berbagai macam polutan dan gas berbahaya di dalam udara yang tercemar polusi seperti PM2.5 dan PM10, Nitrogen Dioksida (NO₂), Sulfur Dioksida (SO₂), Ozon (O₃) hingga Karbon Monoksida (CO).
PM2.5, misalnya, diameternya sangat kecil kurang lebih 30 kali lebih kecil dari sehelai rambut manusia, sehingga bisa masuk hingga ke paru-paru, bahkan ikut mengalir dalam darah. Dampaknya? Penyakit jantung, stroke, gangguan pernapasan, bahkan kanker paru-paru.
Belum lagi gas Ozon (O₃), yang saat berada di permukaan bumi (bukan di lapisan ozon di stratosfer) justru menjadi polutan yang memicu iritasi saluran pernapasan. NO₂ dan SO₂ juga sama-sama menimbulkan risiko, terutama bagi anak-anak, lansia, atau mereka yang sudah punya masalah paru-paru seperti asma.
Air Quality Index (AQI): Skor Kesehatan Udara yang Jarang Kita Lihat
Lalu, bagaimana cara untuk mengetahui apakah udara di sekitar kita memiliki kualitas yang baik atau tidak?
Nah, di sinilah peran Air Quality Index (AQI) atau di Indonesia dikenal sebagai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).
Indeks ini merupakan skor hasil monitoring konsentrasi polutan di udara dan mengkategorikan level bahayanya. Angkanya berkisar antara 0 hingga >300. Semakin tinggi angkanya, semakin berbahaya kondisi udaranya.
0-50 (Baik/Hijau): Aman untuk siapa saja.
51-100 (Sedang/Kuning): Masih aman, tapi kelompok sensitif harus waspada.
101-150 (Tidak Sehat untuk Sensitif/Oranye): Mulai memengaruhi kesehatan, terutama kelompok rentan.
151-200 (Tidak Sehat/Merah): Semua orang bisa terdampak.
201-300 (Sangat Tidak Sehat/Ungu): Sangat berbahaya.
>301 (Berbahaya/Merah Tua/Hitam): Risiko kesehatan sangat serius.
Ada banyak parameter lain yang lebih ketat lagi, WHO mengeluarkan Pedoman Kualitas Udara Global yang memberikan batas-batas maksimal konsentrasi polutan demi melindungi kesehatan manusia. Faktanya, banyak wilayah dunia (termasuk beberapa kota besar di Indonesia) belum memenuhi standar WHO.
Air Quality Monitoring System dari Testindo, Solusi Monitoring Pencemaran udara
Masalahnya, bentuk polusi itu tidak bisa dilihat langsung oleh mata manusia. Kita mungkin merasa udara sudah cukup segar, padahal kadar PM2.5 sudah melebihi ambang sehat. Inilah kenapa kita butuh teknologi untuk mengukur kondisi udara secara real-time, dan salah satu solusi canggih adalah Air Quality Monitoring System (AQMS) dari Testindo.
Testindo menghadirkan alat pemantau kualitas udara yang bekerja memantau berbagai parameter polusi, mulai dari PM2.5, PM10, NO₂, SO₂, CO, O₃, hingga parameter cuaca seperti suhu, kelembapan, dan kecepatan angin. Data ini ditampilkan secara digital, lengkap dengan grafik tren dan notifikasi jika terjadi lonjakan polusi.

Info Pemasangan Air Quality Monitoring System, Klik Disini >
Melalui monitoring pencemeran udara menggunakan AQMS dari Testindo, perusahaan, instansi pemerintah, atau bahkan kawasan industri bisa mengukur tingkat pencemaran udara lebih cepat, sehingga bisa dilakukan tindakan mitigasi yang tepat.
Alat ini bisa mendeteksi kadar PM2.5, PM10, NO₂, SO₂, CO, O₃, plus cuaca kayak suhu, kelembapan, kecepatan angin. Semuanya tercatat rapi, bisa dipantau online dan real-time.
Jika setiap area perkotaan, area pabrik, area pertambangan, kawasan industri, hingga perkotaan bisa tahu kondisi udara secara akurat. Tidak asal menebak. Saat polusi sedang naik, bisa segera mengambil tindakan. Misalnya: batasi aktivitas, pasang alat filtrasi, atau minimal memberi informasi kepada masyarakat untuk menggunakan masker.
Testindo sebagai perusahaan sistem monitoring menyediakan layanan instalasi Air Quality Monitoring System di berbagai lokasi di seluruh Indonesia. Informasi pemesanan dan konsultasi silahkan hubungi kami melalui :
Chat dengan tim kami melalui fitur live chat di pojok kanan bawah website ini
