Testindo – Lahan gambut memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Selain menyimpan karbon dalam jumlah besar, ekosistem ini membantu mengatur tata air dan mendukung kehidupan berbagai jenis tumbuhan serta satwa. Namun, ketika kandungan air di dalam gambut menurun secara berlebihan, fungsinya dapat terganggu dan risiko kebakaran meningkat.

Masalahnya, lahan gambut yang mulai mengering tidak selalu menunjukkan tanda yang jelas. Permukaan tanah mungkin masih terlihat lembap, sementara muka air tanah di bawahnya sudah mengalami penurunan. Jika kondisi ini tidak terpantau, pengelola lahan dapat terlambat mengambil langkah pencegahan.

Lantas, bagaimana cara mengetahui kondisi lahan gambut yang mulai mengering? Ada beberapa indikator yang bisa diperhatikan, mulai dari perubahan muka air tanah dan kondisi permukaan gambut hingga pola curah hujan serta perubahan vegetasi. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat, pengamatan tersebut sebaiknya didukung oleh pengukuran dan pemantauan lingkungan secara berkala.

Metode untuk Mengetahui Kondisi Lahan Gambut yang Mulai Mengering

Gambut terbentuk dari akumulasi sisa tumbuhan yang mengalami penguraian tidak sempurna dalam kondisi jenuh air selama waktu yang panjang. Kondisi basah membantu mempertahankan karakteristik ekosistem gambut dan membatasi paparan oksigen pada lapisan tanah tertentu.

Ketika muka air tanah turun, lapisan gambut di atasnya dapat menjadi lebih kering. Kondisi ini berpotensi mempercepat penguraian bahan organik, meningkatkan risiko kebakaran, dan menyebabkan penyusutan atau penurunan permukaan tanah yang dikenal sebagai subsidence.

Pentingnya pemantauan ini didukung oleh penelitian Nur Wakhid, Siti Nurzakiah, dan Zainudin (2019) berjudul “Dinamika Tinggi Muka Air Tanah pada Lahan Gambut yang Terbakar”, yang diterbitkan dalam jurnal EnviroScienteae. Penelitian tersebut mengkaji fluktuasi muka air tanah pada lahan gambut yang terbakar di Kalimantan Tengah dan menemukan hubungan yang kuat antara perubahan muka air tanah dengan variasi curah hujan.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kondisi air di dalam gambut perlu diperhatikan secara langsung. Data cuaca saja belum tentu cukup untuk menggambarkan keadaan air di bawah permukaan tanah.

1. Memantau Penurunan Muka Air Tanah

Salah satu cara utama untuk mengetahui kondisi lahan gambut yang mulai mengering adalah mengamati perubahan muka air tanah. Muka air tanah menunjukkan kedalaman posisi permukaan air di bawah tanah dan dapat berubah mengikuti curah hujan, penguapan, serta kondisi saluran drainase.

Ketika hujan berkurang dalam waktu tertentu atau air terlalu banyak dialirkan keluar melalui kanal, muka air tanah dapat turun. Akibatnya, lapisan gambut di atasnya berpotensi kehilangan kelembapan.

Menurut penelitian Wakhid, Nurzakiah, dan Zainudin (2019), pengukuran muka air tanah pada lahan gambut yang terbakar di Kalimantan Tengah dilakukan secara manual di lahan dan saluran setiap minggu, dari Februari hingga Desember 2014. Penelitian tersebut melaporkan bahwa variasi muka air tanah berkaitan erat dengan perubahan curah hujan.

Dalam praktiknya, pengelola dapat menggunakan sumur pantau untuk mengukur kedalaman muka air tanah secara berkala. Hasil pengukuran kemudian dibandingkan dari waktu ke waktu untuk melihat apakah terjadi penurunan yang berkelanjutan.

Perlu diingat, tidak ada satu kedalaman muka air tanah yang dapat dijadikan patokan universal untuk seluruh kawasan gambut. Interpretasi hasil pengukuran perlu mempertimbangkan karakteristik lahan, kondisi hidrologi, tujuan pengelolaan, serta pedoman teknis yang berlaku.

2. Mengamati Perubahan Kondisi Permukaan Gambut

Perubahan fisik permukaan tanah juga dapat menjadi petunjuk awal bahwa lahan gambut mulai mengering. Pada kondisi tertentu, permukaan gambut dapat terlihat lebih kering, rapuh, menyusut, atau mengalami retakan.

Namun, pengamatan visual saja tidak cukup untuk memastikan kondisi seluruh lapisan gambut. Permukaan tanah yang terlihat kering belum tentu menunjukkan bahwa lapisan di bawahnya juga mengalami pengeringan dengan tingkat yang sama. Sebaliknya, permukaan yang masih lembap tidak menjamin kondisi air di dalam gambut tetap memadai.
Karena itu, pemeriksaan lapangan sebaiknya dilakukan bersama pengukuran kadar air tanah dan muka air tanah. Kombinasi ini membantu memberikan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai kondisi lahan.

3. Memperhatikan Perubahan Curah Hujan dan Suhu Udara

Curah hujan merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi ketersediaan air di lahan gambut. Ketika hujan berkurang dalam waktu yang cukup lama, sementara penguapan terus berlangsung, kandungan air di dalam tanah dapat mengalami penurunan.
Selain curah hujan, terdapat beberapa parameter cuaca yang perlu diperhatikan:

  • Suhu udara, untuk memahami kondisi termal lingkungan yang turut memengaruhi penguapan.
  • Kelembapan udara, untuk membantu memperkirakan kondisi atmosfer yang memengaruhi proses penguapan.
  • Kecepatan angin, karena pergerakan udara dapat memengaruhi laju penguapan dari permukaan.
  • Radiasi matahari, yang menyediakan energi untuk proses penguapan.
  • Curah hujan, untuk mengetahui jumlah air yang masuk ke kawasan dalam periode tertentu.

Penelitian Taufik dkk. (2022) berjudul “An Improved Drought-Fire Assessment for Managing Fire Risks in Tropical Peatlands” yang diterbitkan dalam jurnal Agricultural and Forest Meteorology mengembangkan indeks risiko kebakaran gambut dengan menggabungkan informasi curah hujan, muka air tanah, dan kemampuan gambut menahan air. Hasilnya menegaskan pentingnya mempertimbangkan faktor cuaca dan hidrologi secara bersamaan ketika menilai risiko kekeringan dan kebakaran gambut.

Artinya, pemantauan cuaca dapat membantu mengidentifikasi periode yang berpotensi meningkatkan risiko pengeringan. Namun, untuk mengetahui apakah gambut benar-benar kehilangan kelembapan, informasi tersebut tetap perlu dibandingkan dengan pengukuran kondisi air di lapangan.

4. Mengenali Perubahan Vegetasi di Sekitar Lahan

Vegetasi dapat memberikan petunjuk tambahan mengenai perubahan kondisi lingkungan. Ketika ketersediaan air menurun, sebagian tumbuhan dapat mengalami stres yang ditandai dengan daun menguning, layu, atau pertumbuhan yang melambat.

Perubahan jenis tumbuhan yang tumbuh di suatu kawasan juga dapat menjadi indikasi perubahan kondisi habitat dalam jangka panjang. Meski demikian, gejala tersebut tidak selalu disebabkan oleh kekurangan air. Gangguan unsur hara, penyakit, dan perubahan penggunaan lahan juga dapat memengaruhi kondisi vegetasi.

Oleh sebab itu, perubahan vegetasi sebaiknya diperlakukan sebagai indikator pendukung, bukan sebagai satu-satunya dasar untuk menyimpulkan bahwa gambut mulai mengering.
Pengamatan vegetasi akan lebih bermanfaat apabila dilakukan secara berkala dan dibandingkan dengan data muka air tanah, kelembapan tanah, serta kondisi cuaca setempat.

5. Memeriksa Kondisi Saluran Drainase

Saluran drainase dapat memengaruhi keseimbangan air di kawasan gambut. Jika pengaliran air keluar dari lahan berlangsung secara berlebihan atau tidak sesuai dengan kebutuhan hidrologi kawasan, muka air tanah dapat mengalami penurunan.

Ketika melakukan pemeriksaan lapangan, perhatikan kondisi kanal, aliran air, pintu air, serta perubahan kondisi lahan di sekitarnya. Area yang semakin kering di dekat saluran tertentu perlu diperiksa lebih lanjut untuk mengetahui apakah perubahan tersebut berkaitan dengan pengelolaan tata air.

Pada kawasan yang memerlukan pengaturan air, pengelola dapat mengevaluasi sistem drainase dan mempertimbangkan langkah pembasahan kembali atau rewetting sesuai karakteristik lokasi dan ketentuan yang berlaku.

Tujuannya adalah membantu mempertahankan kondisi hidrologi yang sesuai, bukan sekadar membuat permukaan tanah terlihat basah.

6. Menghubungkan Kondisi Gambut dengan Risiko Kebakaran

Salah satu alasan utama kondisi lahan gambut perlu dipantau adalah meningkatnya risiko kebakaran ketika gambut mengalami pengeringan.

Dalam penelitian Taufik dkk. (2022), para peneliti menemukan bahwa kondisi muka air tanah berperan penting dalam penilaian bahaya kebakaran gambut. Pada lokasi penelitian, kelas bahaya kebakaran yang tinggi umumnya ditemukan ketika muka air tanah turun hingga lebih dari 40 cm di bawah permukaan, sedangkan area terbakar teramati ketika muka air tanah berada di bawah 60 cm.

Angka tersebut merupakan hasil penelitian pada lokasi dan kondisi tertentu, bukan batas aman yang berlaku untuk semua lahan gambut di Indonesia. Risiko kebakaran juga dipengaruhi oleh kondisi cuaca, karakteristik gambut, vegetasi, serta faktor pengelolaan lahan.

Penelitian Mezbahuddin dkk. (2023) berjudul “Accuracy of Tropical Peat and Non-Peat Fire Forecasts Enhanced by Simulating Hydrology”, yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports, turut menunjukkan bahwa informasi mengenai kadar air tanah dan dinamika muka air tanah dapat meningkatkan akurasi prediksi kebakaran ketika digabungkan dengan data cuaca dalam model yang dikembangkan peneliti.

Kedua penelitian tersebut memperkuat pentingnya pemantauan kondisi air di dalam tanah sebagai bagian dari upaya memahami dan mengurangi risiko kebakaran gambut.

Instrumen Monitoring untuk Mendapatkan Data yang Lebih Akurat

instalasi awlr lahan gambut

Pengamatan manual tetap penting, tetapi pemantauan menggunakan instrumen dapat membantu mengumpulkan data secara lebih konsisten. Hal ini terutama bermanfaat pada kawasan gambut yang luas atau sulit dijangkau.

Beberapa instrumen yang dapat digunakan meliputi:

Water Level Sensor

Water Level digunakan untuk memantau perubahan ketinggian atau kedalaman muka air pada titik pemantauan yang sesuai. Data yang dikumpulkan membantu mengetahui apakah muka air tanah mengalami penurunan secara berkelanjutan.

Soil Moisture Sensor

Mengukur kadar air tanah pada kedalaman tertentu. Instrumen ini dapat membantu mendeteksi perubahan kelembapan gambut yang belum tentu terlihat dari permukaannya.

Automatic Weather Station (AWS)

Automatic Weather Station berperan besar untuk mengumpulkan data cuaca, seperti curah hujan, suhu udara, kelembapan udara, dan kecepatan angin, sesuai konfigurasi sensor yang digunakan. Data tersebut membantu menjelaskan perubahan kondisi atmosfer yang dapat memengaruhi keseimbangan air gambut.

Agar hasil pemantauan lebih bermanfaat, data dari instrumen tersebut dapat dianalisis secara bersamaan. Sebagai contoh, ketika curah hujan menurun selama beberapa hari dan muka air tanah terus turun, pengelola dapat meningkatkan kewaspadaan serta melakukan pemeriksaan lanjutan terhadap kondisi lahan.

Namun, pemasangan instrumen harus disesuaikan dengan tujuan pemantauan, karakteristik lokasi, kedalaman gambut, dan kebutuhan pengukuran. Tidak semua sensor mengukur parameter yang sama, sehingga pemilihan alat perlu didasarkan pada indikator yang ingin diketahui.

Menerapkan Pemantauan Lahan Gambut Secara Berkala

Agar data yang diperoleh dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan, pemantauan sebaiknya dilakukan secara terencana. Berikut langkah yang dapat diterapkan:

1. Menentukan titik pemantauan. Pilih lokasi yang mewakili kondisi lahan, termasuk area dekat kanal dan bagian yang memiliki riwayat kekeringan.
2. Mencatat kondisi awal. Kumpulkan data awal mengenai muka air tanah, kelembapan gambut, curah hujan, dan kondisi vegetasi.
3. Melakukan pengukuran secara konsisten. Gunakan jadwal dan metode yang sesuai agar perubahan kondisi dapat dibandingkan secara objektif.
4. Menganalisis tren data. Perhatikan apakah muka air tanah terus turun, kelembapan tanah berkurang, atau periode tanpa hujan semakin panjang.
5. Menindaklanjuti perubahan yang mengkhawatirkan. Lakukan pemeriksaan lapangan dan evaluasi pengelolaan tata air berdasarkan hasil pengukuran serta pedoman yang berlaku.

Pemantauan yang konsisten membantu pengelola memahami perubahan kondisi lahan secara lebih dini. Dengan demikian, tindakan pencegahan dapat direncanakan berdasarkan data, bukan hanya berdasarkan perkiraan atau pengamatan sesaat.

Layanan Pemasangan Instrumen Monitoring di Lahan Gambut

awlr-untuk-lahan-gambut

Testindo sebagai perusahaan engineering & monitoring solution menyediakan layanan instalasi berbagai instrumen monitoring untuk memantau tingkat kekeringan di lahan gambut. Kami siap melayani pengerjaan di seluruh Indonesia.

Informasi pemesanan dan konsultasi silakan hubungi kami dengan menekan tombol whatsapp di bawah ini :

Bisa juga chat dengan tim kami melalui fitur live chat di pojok kanan bawah website ini

 

Referensi Tulisan :

1. Wakhid, N., Nurzakiah, S., & Zainudin. (2019). Dinamika Tinggi Muka Air Tanah pada Lahan Gambut yang Terbakar. EnviroScienteae, 15(1), 86–90.

2. Taufik, M., Widyastuti, M. T., Sulaiman, A., Murdiyarso, D., Santikayasa, I. P., & Minasny, B. (2022). An Improved Drought-Fire Assessment for Managing Fire Risks in Tropical Peatlands. Agricultural and Forest Meteorology, 312, 108738.

3. Mezbahuddin, S., Nikonovas, T., Spessa, A., Grant, R. F., Imron Ali, M., Doerr, S. H., & Clay, G. D. (2023). Accuracy of Tropical Peat and Non-Peat Fire Forecasts Enhanced by Simulating Hydrology. Scientific Reports, 13, 619.