Testindo – Lahan gambut mudah terbakar ketika kandungan airnya menurun sehingga material organik di dalam tanah menjadi kering dan rentan terbakar. Kondisi ini dapat diperparah oleh drainase berlebihan, musim kemarau, pembukaan lahan, serta aktivitas manusia yang memicu penyalaan api. Untuk mengurangi risiko kebakaran, diperlukan pengelolaan tata air yang tepat, pemeliharaan kelembapan gambut, dan pemantauan kondisi lahan secara berkala.
Lahan gambut merupakan salah satu ekosistem penting di Indonesia yang memiliki peran besar dalam menyimpan karbon, menjaga keseimbangan tata air, dan mendukung keanekaragaman hayati. Ekosistem ini banyak ditemukan di wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Namun, di balik perannya yang penting, lahan gambut memiliki kerentanan tinggi terhadap kebakaran, terutama ketika mengalami kekeringan pada musim kemarau.
Kebakaran lahan gambut menjadi persoalan lingkungan yang tidak sederhana. Api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi juga dapat merambat ke lapisan tanah organik di bawahnya. Akibatnya, kebakaran dapat berlangsung lama, sulit dipadamkan, dan menghasilkan asap yang mengganggu kesehatan serta aktivitas masyarakat.
Penyebab Lahan Gambut Mudah Terbakar
Lantas, mengapa lahan gambut mudah terbakar? Untuk memahaminya, kita perlu mengenali karakteristik tanah gambut, kondisi air di dalamnya, pengaruh cuaca, serta aktivitas manusia yang dapat meningkatkan risiko kebakaran.
1. Kandungan Bahan Organik yang Tinggi
Salah satu penyebab utama lahan gambut mudah terbakar adalah kandungan bahan organiknya yang tinggi. Tanah gambut terbentuk melalui akumulasi sisa-sisa tumbuhan yang mengalami pelapukan tidak sempurna selama waktu yang panjang, terutama dalam kondisi lingkungan yang jenuh air.
Proses tersebut menghasilkan lapisan tanah yang kaya akan material organik, seperti sisa akar, batang, daun, dan bagian tumbuhan lainnya. Ketika gambut berada dalam kondisi basah, kandungan air membantu menghambat proses penyalaan dan pembakaran material tersebut.
Namun, ketika kadar airnya menurun, material organik yang sebelumnya basah dapat menjadi bahan bakar bagi api. Pembakaran pun tidak terbatas pada rumput, semak, atau pepohonan di permukaan, tetapi dapat menjalar ke lapisan gambut yang mengering.
Artinya, karakteristik alami gambut bukan berarti lahan ini selalu mudah terbakar. Risiko kebakaran meningkat secara signifikan ketika kandungan airnya berkurang sehingga lapisan organik menjadi lebih rentan terhadap penyalaan.
2. Penurunan Muka Air Tanah Akibat Drainase
Faktor berikutnya adalah perubahan tata air, terutama akibat pembuatan saluran drainase atau kanal yang mengalirkan air keluar dari lahan gambut.
Drainase umumnya dibuat untuk mendukung kegiatan tertentu, seperti pertanian, perkebunan, atau pemanfaatan lahan lainnya. Akan tetapi, jika sistem drainase dirancang atau dikelola tanpa mempertimbangkan karakteristik hidrologi gambut, air di dalam tanah dapat terkuras secara berlebihan.
Ketika air mengalir keluar, tinggi muka air tanah dapat menurun. Lapisan gambut yang sebelumnya lembap kemudian kehilangan sebagian kandungan airnya dan menjadi lebih kering.
Penelitian Sari Marlina (2017) dalam jurnal Media Ilmiah Teknik Lingkungan menjelaskan bahwa pengeringan gambut melalui drainase yang terlalu dalam dapat meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran. Temuan ini memperlihatkan bahwa pengelolaan tata air memiliki hubungan erat dengan kondisi dan keamanan ekosistem gambut.
Dengan demikian, persoalannya bukan semata-mata keberadaan kanal, melainkan bagaimana drainase memengaruhi keseimbangan air dan tingkat kelembapan gambut.
3. Musim Kemarau dan Curah Hujan yang Rendah
Kondisi cuaca juga berpengaruh besar terhadap risiko kebakaran lahan gambut. Ketika curah hujan menurun dalam waktu yang cukup lama, pasokan air yang menjaga kelembapan tanah ikut berkurang.
Pada saat yang sama, penguapan dapat terus berlangsung sehingga kandungan air di permukaan dan lapisan tanah semakin menurun. Jika kondisi ini terjadi pada lahan gambut yang telah mengalami pengeringan akibat drainase, tingkat kerentanannya terhadap kebakaran dapat meningkat.
Fenomena iklim seperti El Niño juga dapat memengaruhi pola curah hujan di Indonesia dan meningkatkan kemungkinan terjadinya periode kering di sejumlah wilayah. Meski demikian, dampaknya tidak selalu sama di setiap daerah karena dipengaruhi kondisi cuaca lokal, tata air, tutupan lahan, dan tingkat degradasi gambut.
Oleh sebab itu, musim kemarau perlu dipandang sebagai faktor yang memperbesar risiko, bukan sebagai penyebab tunggal terjadinya kebakaran. Gambut yang terjaga kelembapannya umumnya memiliki risiko kebakaran lebih rendah dibandingkan gambut yang telah mengering.
4. Pembukaan Lahan dan Aktivitas Manusia
Kebakaran lahan gambut juga berkaitan erat dengan aktivitas manusia, baik yang disengaja maupun yang terjadi akibat kelalaian.
Pembukaan lahan untuk berbagai kepentingan dapat mengubah tutupan vegetasi dan kondisi lingkungan. Apabila kegiatan tersebut disertai pengeringan gambut yang tidak terkendali, lahan menjadi lebih rentan terhadap penyalaan dan penyebaran api.
Sumber penyalaan dapat berasal dari aktivitas pembukaan lahan, pembakaran vegetasi, api yang tidak dipadamkan dengan benar, atau sumber api lain yang kemudian menyebar ke area sekitarnya.
Publikasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengenai pengendalian kebakaran hutan dan lahan menyoroti besarnya peran manusia dalam kejadian karhutla di Indonesia. Namun, penyebab setiap kejadian perlu diperiksa berdasarkan bukti dan kondisi setempat, bukan langsung diasumsikan berasal dari satu aktivitas tertentu.
Hal penting yang perlu dipahami adalah bahwa sumber api dan kondisi lahan merupakan dua faktor yang saling berkaitan. Sumber penyalaan dapat memicu kebakaran, sedangkan gambut yang kering membuat api lebih mudah berkembang dan lebih sulit dikendalikan.
5. Gambut Kering Dapat Mengalami Pembakaran di Bawah Permukaan
Salah satu karakteristik yang membuat kebakaran gambut sangat sulit ditangani adalah kemampuannya untuk mengalami pembakaran membara di bawah permukaan tanah, yang dikenal sebagai smouldering combustion.
Berbeda dengan kebakaran vegetasi yang terlihat jelas melalui kobaran api, pembakaran membara dapat berlangsung di dalam lapisan gambut dengan nyala yang terbatas atau bahkan tidak terlihat dari permukaan.
Api dapat bergerak melalui material organik yang mengering dan meninggalkan titik panas di bawah tanah. Karena sumber panas tersebut tersembunyi, area yang tampak sudah padam belum tentu benar-benar bebas dari bara.
Penelitian mengenai pola perambatan panas pada gambut di Jambi yang diterbitkan dalam Journal of Tropical Silviculture pada 2022 menunjukkan bahwa kadar air merupakan salah satu faktor yang memengaruhi proses pembakaran dan perambatan panas pada gambut.
Karakteristik ini membuat penanganan kebakaran gambut memerlukan perhatian khusus. Pemadaman api di permukaan saja belum tentu cukup apabila masih terdapat titik panas di lapisan bawah tanah.
6. Kebakaran Berulang Dapat Memperburuk Kondisi Gambut
Kebakaran tidak hanya menjadi akibat dari kerusakan ekosistem gambut, tetapi juga dapat memperburuk kerusakan tersebut.
Ketika kebakaran terjadi berulang kali, tutupan vegetasi dapat berkurang, struktur tanah mengalami perubahan, dan fungsi hidrologi lahan dapat terganggu. Kondisi ini dapat membuat gambut lebih rentan terhadap kekeringan dan kebakaran berikutnya, bergantung pada tingkat kerusakan serta kondisi pemulihannya.
Dengan kata lain, kebakaran yang berulang dapat membentuk siklus kerusakan. Gambut yang rusak menjadi lebih rentan mengalami pengeringan, sedangkan kondisi yang semakin kering meningkatkan risiko kebakaran ketika terdapat sumber penyalaan.
Karena itu, upaya pencegahan perlu dilakukan secara berkelanjutan, tidak hanya ketika kebakaran sudah terjadi.
7. Gambut yang Terlalu Kering Dapat Sulit Menyerap Air Kembali
Pada kondisi tertentu, pengeringan gambut yang berlangsung ekstrem dapat menyebabkan perubahan sifat fisik material organiknya. Salah satu fenomena yang perlu diperhatikan adalah irreversible drying, yaitu kondisi ketika gambut yang sangat kering mengalami penurunan kemampuan untuk menyerap air kembali seperti sebelumnya.
Fenomena ini tidak terjadi secara seragam pada semua lahan gambut, tetapi dapat muncul pada gambut yang mengalami pengeringan berat dan perubahan karakteristik materialnya.
Akibatnya, hujan yang turun belum tentu langsung memulihkan kelembapan seluruh lapisan gambut yang telah rusak. Kondisi permukaan mungkin terlihat basah, sementara lapisan yang lebih dalam masih relatif kering.
Inilah salah satu alasan mengapa pemulihan lahan gambut tidak cukup hanya mengandalkan curah hujan. Pengelolaan tata air, pemulihan vegetasi, dan pemantauan kondisi lahan juga diperlukan untuk membantu menjaga kelembapan dalam jangka panjang.
Dampak Kebakaran Lahan Gambut bagi Lingkungan dan Masyarakat
Kebakaran gambut dapat menimbulkan dampak yang jauh melampaui lokasi terjadinya api. Pembakaran material organik menghasilkan asap dan melepaskan karbon ke atmosfer, sedangkan asap yang terbawa angin dapat memengaruhi kualitas udara di wilayah yang cukup jauh dari sumber kebakaran.
Paparan asap dapat memperburuk gangguan pernapasan, mengiritasi mata, dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Kabut asap juga dapat mengurangi jarak pandang sehingga berisiko terhadap transportasi darat, laut, maupun udara.
Selain itu, kebakaran dapat merusak habitat satwa, mengurangi keanekaragaman hayati, mengganggu fungsi tata air, dan menurunkan kualitas lahan. Apabila kebakaran terjadi di wilayah yang berdekatan dengan permukiman atau area produksi, kerugian sosial dan ekonomi juga dapat muncul.
Dampak tersebut menunjukkan bahwa pencegahan kebakaran gambut merupakan bagian penting dari perlindungan lingkungan, kesehatan masyarakat, dan keberlanjutan pemanfaatan lahan.

Upaya Mencegah Lahan Gambut Mudah Terbakar
Pencegahan kebakaran perlu mengutamakan pengelolaan kondisi lahan sebelum munculnya sumber api. Beberapa langkah penting untuk mencegah terjadinya kebakaran lahan gambut yaitu :
Menjaga Tinggi Muka Air Tanah
Pengelolaan tata air perlu dilakukan agar gambut tidak mengalami pengeringan berlebihan, khususnya selama musim kemarau.
Mengelola Kanal dan Drainase Secara Tepat
Sistem drainase perlu disesuaikan dengan karakteristik hidrologi gambut agar tidak menyebabkan penurunan muka air tanah secara berlebihan.
Menghindari Pembakaran untuk Membuka Lahan
Penggunaan api dapat meningkatkan risiko penyalaan, terutama ketika vegetasi dan lapisan gambut berada dalam kondisi kering.
Memantau Kondisi Lingkungan Secara Berkala
Pengamatan tinggi muka air tanah, kelembapan gambut, curah hujan, dan suhu dapat membantu mengenali peningkatan risiko kebakaran.
Memulihkan Lahan yang Terdegradasi
Pembasahan kembali atau rewetting, pemulihan vegetasi, dan pengelolaan ekosistem yang sesuai dapat membantu memperbaiki kondisi gambut.
Meningkatkan Kesiapsiagaan Masyarakat dan Pengelola Lahan
Edukasi, pelaporan dini, dan koordinasi penanganan kebakaran penting untuk mengurangi risiko serta mempercepat respons ketika muncul indikasi kebakaran.
Semua upaya ini sejalan dengan pentingnya perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2014, yang diubah melalui Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut.
Kondisi ini dapat diperparah oleh drainase yang berlebihan, musim kemarau, perubahan penggunaan lahan, aktivitas manusia, dan kerusakan akibat kebakaran berulang.
Risiko kebakaran gambut tidak hanya ditentukan oleh cuaca, tetapi juga oleh kondisi hidrologi dan cara lahan dikelola. Oleh karena itu, menjaga kelembapan gambut, mengelola tata air, menghindari sumber penyalaan, dan melakukan pemantauan secara berkala merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko kebakaran.
Layanan Monitoring Level Air Tanah di Lahan gambut

Salah satu alasan lahan gambut mudah terbakar yaitu ketika ketinggian airnya menurun sehingga material organik yang menyusun tanah menjadi lebih rentan terhadap penyalaan api. Perlu dilakukan tindakan monitoring level atau ketinggian air tanah di lahan gambut secara berkala.
Testindo sebagai perusahaan engineering & monitoring solution menyediakan layanan monitoring level air di lahan gambut menggunakan Automatic Water Level Recorder (AWLR). Kami siap melayani pengerjaan di lahan gambut di seluruh Indonesia.
Informasi pemesanan dan konsultasi bisa menghubungi kami dengan menekan tombol whatsapp di bawah ini :
Bisa juga chat dengan tim kami melalui fitur live chat di pojok kanan bawah website ini
Referensi
- Marlina, S. (2017). Tata Air dan Kerentanan Lingkungan Lahan Gambut. Media Ilmiah Teknik Lingkungan, 2(2), 25–34. https://doi.org/10.33084/mitl.v2i2.125
- Qamariyanti, Y., Usman, R., & Rahmawati, D. (2023). Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Lahan Gambut dan Hutan. Jurnal Ilmu Lingkungan, 21(1), 132–142. https://doi.org/10.14710/jil.21.1.132-142
- Putra, E. I., dkk. (2022). Pola Propagasi Panas dari Sampel Gambut yang Terbakar di Jambi. Journal of Tropical Silviculture. https://doi.org/10.29244/j-siltrop.13.01.47-52
- Pratikasiwi, H. A. (2024). Dinamika Kelengasan Tanah pada Lahan Gambut Terdegradasi berdasarkan Frekuensi Kebakaran dan Tutupan Lahan. Repositori IPB University.
- Pemerintah Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2014 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut, sebagaimana diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2016. JDIH BPK RI: https://peraturan.bpk.go.id/Details/5778/pp-no-57-tahun-2016
