Testindo – Rongga di bawah beton dapat menyebabkan penurunan struktur, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan menggunakan metode non destructive test seperti GPR, ultrasonik tomography, dan ultrasonic pulse velocity. Untuk memastikan hasil yang akurat, inspeksi biasanya dilanjutkan dengan pengeboran dan endoskopi sebagai validasi langsung. Kombinasi metode ini memudahkan identifikasi void dengan cepat, presisi, dan minim risiko kerusakan pada struktur.
Void yang terbentuk di bawah permukaan pelat lantai beton (slab-on-grade), di mana tanah pendukung di bawah beton hilang sehingga beton menggantung tanpa tumpuan. Ketika void ini terbentuk di bawah beton, maka beton tidak lagi memiliki tumpuan. Ketika ada beban berat (seperti kendaraan atau mesin) melintas di atasnya, beton akan mengalami tegangan tarik ekstrem dan akhirnya retak, patah, hingga amblas secara mendadak.
4 Cara Mendeteksi Rongga Kosong di Bawah Beton Bangunan
Rongga kosong (void) yang terbentuk di bawah struktur beton sering kali tidak terlihat dari permukaan, namun dampaknya bisa sangat serius. Mulai dari retak struktural, penurunan tanah (settlement), hingga amblesnya banguna. Itulah mengapa perlu dilakukan pengujian assessment untuk mendeteksi seberapa besar rongga yang terbentuk di dalam beton tersebut.
1. Ground Penetrating Radar (GPR)

Ground Penetrating Radar (GPR) merupakan salah satu metode paling sering digunakan untuk mendeteksi rongga di bawah beton. Teknologi ini bekerja dengan memanfaatkan gelombang elektromagnetik berfrekuensi tinggi yang dipancarkan ke dalam struktur beton.
Ketika gelombang tersebut menemui perbedaan material yang signifikan, misalnya dari beton padat ke udara atau air, gelombang akan dipantulkan kembali dan ditangkap oleh antena. Data pantulan ini kemudian diolah menjadi citra bawah permukaan dalam bentuk 2D maupun 3D.
Keunggulan utama GPR terletak pada kecepatannya dalam melakukan pemindaian area luas serta kemampuannya memberikan visualisasi real-time. Metode ini juga relatif aman digunakan di dalam ruangan tanpa merusak struktur.
Namun demikian, performa GPR dapat menurun jika beton memiliki tulangan yang sangat rapat atau jika kondisi tanah di bawahnya mengandung kadar air dan garam yang tinggi, seperti pada tanah lempung basah.
2. Ultrasonic Concrete Tomography

Alat ini menggunakan metode Ultrasonic Pulse-Echo (Pitch-Catch) dengan susunan sensor canggih untuk menghasilkan citra visual bagian dalam beton secara instan. Perangkat ini menggunakan matriks antena yang terdiri dari puluhan sensor kecil berbentuk pin (biasanya 48 sensor yang dibagi menjadi 12 baris saluran/channels).
Ketika operator menggeser alat ke beberapa titik permukaan beton, perangkat lunak atau software bawaan pada alat ini akan menggabungkan potongan-potongan 2D tersebut menjadi model visual 3D yang memperlihatkan letak, bentuk, dan volume rongga kosong secara akurat di dalam beton.
Teknologi ini mempermudah teknisi karena mereka tidak sekadar menebak keberadaan rongga lewat suara ketukan, melainkan bisa “melihat” langsung letak dan ukuran rongga keropos (honeycomb) yang tersembunyi di balik tebalnya beton pelat, kolom, maupun terowongan.
3. Ultrasonic Pulse Velocity (UPV)

Ultrasonic Pulse Velocity (UPV) bisa dan sangat umum digunakan untuk mendeteksi void (rongga kosong/keropos).
Namun, ada catatan penting, UPV sangat efektif untuk mendeteksi void yang berada di dalam massa struktur beton itu sendiri (seperti pada balok, kolom, atau dinding). Jika tujuannya untuk mendeteksi void di bawah pelat lantai beton (rongga tanah yang amblas), UPV kurang efektif dan memiliki keterbatasan besar dibanding metode GPR atau Ultrasonic Tomography (MIRA).
UPV bekerja berdasarkan prinsip pengukuran waktu tempuh gelombang ultrasonik gelombang tekan (P-wave) melewati ketebalan beton. Alat ini terdiri dari unit utama dan dua transduser (transduser pemancar dan penerima).
Gelombang ultrasonic merambat jauh lebih cepat di dalam material padat (beton) daripada di dalam udara atau air. Namun, ketika ada void (rongga) maka gelombang ultrasonik akan terpaksa “membelok” memutari rongga kosong tersebut untuk mencari jalur beton padat agar bisa sampai ke transduser penerima.
4. Metode Verifikasi: Drilling & Endoscopy

Core drill menggunakan mesin bor khusus dengan mata bor silinder berongga berlapis intan (diamond core bit). Alat ini memotong beton secara melingkar untuk mengambil sampel beton utuh berbentuk silinder (disebut core).
Lubang kecil dengan diameter sekitar 1–2 cm dibuat hingga menembus area yang dicurigai. Kamera endoskopi kemudian dimasukkan untuk melihat kondisi rongga secara visual, termasuk ukuran, kedalaman, dan tingkat keparahannya.
Metode ini memberikan kepastian yang sangat tinggi, namun bersifat destruktif pada titik tertentu saja. Meski begitu, lubang bor yang dibuat biasanya juga dimanfaatkan untuk proses perbaikan seperti injeksi grout.
Layanan Pengujian Beton Struktur Bangunan

Testindo menyediakan layanan semua pengujian beton tersebut yang merupakan bagian dari Jasa Audit Struktur Bangunan untuk berbagai konstruksi seperti gedung, jembatan, apartemen, rumah sakit dan lainnya. Informasi pemesanan dan konsultasi silakan hubungi kami dengan menekan tombol whatsapp di bawah ini :
Bisa juga chat dengan tim kami melalui fitur live chat di pojok kanan bawah website ini
